Anak Trauma Karena Jatuh
Ibu, anakku jatuh di sekolah dan mendapat 2 jahitan. Kalau dilihat dari kesehatan tidak apa-apa, tapi sepertinya anakku trauma ke sekolah padahal selama ini dia suka sekali kalau pergi ke sekolah, bagaimana ya bu?
Tanya:
Ibu, mau nanya lagi ya, hari Rabu yang lalu kan anakku yang kena swdikit musibah di sekolah waktu sedang bermain di playground, jidatnya harus dijahit 2 jahitan, insyaAllah secara kesehatan tidak apa-apa. Jahitannya juga sudah akan dibuka hari ini. Masalahnya, kayaknya anakku trauma sekali, dia jadi tidak mau sekolah padahal sebelum kejadian dia senang sekali sekolah, alhamdulillah tidak ada masalah apa-apa memang lagi lari-lari dan kejar-kejaran sama temannya, dia tidak lihat ada ayunan yang sedang didorong ke arahnya. Hari ini aku sedang mencoba metode baru, aku sengaja jemput teman kelasnya yang dia dekat untuk berangkat dan pulang sama-sama, ternyata kalau berangkat, anakku masih nangis, merengek, tidak semangat kayak yang aku harapkan. Tapi pas pulang sudah semangat sekali, gurunya bilang, nangis sekali pas aku tinggal setelah itu sudah tidak apa-apa lagi karena kegiatannya tadi mereka membuat cup corn, komputer, jadi sepertinya harus ada yang mengalihkan. Makanya aku masih bingung, kalau suamiku sebetulnya sudah minta anakku di rumah saja dulu, kayaknya kalau besok insyaAllah habis buka jahitan dia masih nangis, aku juga akan coba usulnya. [Nd]
Jawab:
Anakku setahun yang lalu, kira-kira seumuran anakmu sekarang, juga pernah mengalami kecelakaan di sekolahnya. Anakku tanpa sengaja kena batu yg nyasar dilempar temannya. Luka robek di atas bibirnya sekarang menyisakan bekas 3 jahitan. Kalau besar nanti dia kumisan, pasti kumisnya tidak utuh. Yang aku dan suami khawatirkan saat itu adalah trauma anakku kepada sekolah, batu, sekaligus teman yang (tanpa sengaja) telah melemparnya. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan anakku kami liburkan dari sekolah sekitar 2 mingguan. Selama di rumah banyak yang harus disampaikan ke anakku, mulai dari belajar memaafkan, belajar untuk tidak takut dan mendendam ke teman, sampai belajar bahwa yang namanya musibah bisa terjadi di mana saja. Saranku, coba kasih waktu ke anak mba. Jangankan anak seumurnya, orang dewasa saja butuh waktu buat menghilangkan trauma. Insya Allah libur di rumah akan membuat anak mba rindu untuk kembali bersekolah. [Nn]
Jatuhnya karena memang karena anak mba sendiri (kurang hati-hati) atau karena ada penyebab lain? Maksudku di dorong atau kedorong atau sebab-sebab lainnya? Kalau emang karena anak mba kurang hati-hati sekalipun menurut aku wajar kalau anak mba trauma. Sekolah buat anak adalah tempat yang menyenangkan, tapi kalau di tempat yang menyenangkan walaupun masih dalam pengawasan guru bisa membuat dia celaka, dia pasti tidak merasa aman. Apalagi kalau dia sempat lihat banyak darah dan merasakan sakitnya dijahit. Mungkin yang ada dipikirannya saat ini adalah saya lebih aman bersama ibu dan ayah daripada cuma sama ibu guru. Saranku minta ijin sekolah saja dulu untuk bisa menemani dia sampai kepercayaannya kembali. [Dm]
Aduh sedih sekali ya, kalau anak kesakitan maunya kita menggantikan dia ya. Tpi aku kadang mikir, kalau kita yang sakit malah justru anak tidak ada yang memperhatikan (siapa coba yang bisa memperhatikan anak dengan baik, sebaik perhatian dari sang ibu ?). Saya rasa, anak mba bukan trauma, mungkin cuma teringat akan kejadian yang dia alami dan kejadian itu sedikit tidak mengenakkan buat dia. Aku taruh di posisiku, kalau pas ketemu kecelakaan di jalan (sampai ada darah-darah bahkan si korban meninggal dan belum diangkat), aku sering sekali waktu lewat di tempat itu jadi rada gimana, tiba-tiba pusing dan keingat kejadian itu. Tapi kalau pas lewat situ, dan aku tidak perhatikan/sembari bicara ya tidak ingat. Mungkin seiring berjalannya waktu, anaknya lambat laun akan biasa lagi (mudah-mudahan). Aku kecil dulu juga sempat dijahit di janggut gara-gara kena pagar. Beberapa saat memang sempat takut kalau lihat pagar, tapi lama kelamaan ya biasa lagi dan tetap saja main-main di pagar, tapi seingatku, aku lebih hati-hati karena tidak mau jatuh lagi. Selalu ada yang positif dari setiap kejadian. Mudah-mudahan kejadian ini membuat anaknya makin berhati2, terus diajak bicara saja, kalau selalu berhati-hati insyaAllah tidak akan terjadi apa-apa, biar anak tidak malah menjadi semakin takut.
Jadi ingin cerita sedikit tentang anak, kalau aku sama suami di rumah, malah justru suamiku yang kesannya membuat anakku takut mencoba, soal jatuh sedikit, lalu di sayang-sayang, kalau aku malah pura-pura tidak lihat, selama aku lihat tidak terlalu bahaya dan tidak ada luka/benjol yang serius. Apalagi anakku kan laki, masa harus mainan dengan barbie sama penggorengan ), jadi ya kalau anakku naik-naik ke pagar, aku biarkan saja, paling aku datang, sambil aku bilang hati-hati (soalnya kalau dikageti malah takut jatuh), kalau bapaknya yang lihat wah pasti akan ramai di rumah, ibu sama bapaknya bertolak belakang sekali ya ! tapi ya itulah hidup, harus saling melengkapi [Ag]
Pengalaman buruk yang dialami anak seringkali menimbulkan ketakutan anak. Seperti yang dialami oleh anak mba, saya rasa masih dalam batas normal. Artinya saat ini anak mba takut, bukan hal yang perlu dikuatirkan. Saya setuju untuk memberikan waktu pada anak untuk memulihkan kepercayaan dirinya. Caranya memang bisa ditemanin dulu sekolahnya, berdoa minta perlindungan Allah, atau justru diliburkan dulu sampai lukanya sembuh. Selain itu anak mba juga diberi pengertian bahwa hal yang dialaminya adalah biasa dalam kehidupan, dimana kita tidak hanya mengalami hal yang senang, tapi juga yang menyakitkan. Ada sebab dan akibat. Memang ya pada saat kejadian kita pasti panik, soal kan lukanya besar dan harus dijahit. Tapi kesan yang terekam dalam benak anak, bahwa sesuatu yang terjadi itu benar-benar menakutkan, bisa terjadi hanya karena melihat reaksi kita saat kejadian tersebut. Mudah-mudahan tidak buat tambah pusing ya ! Cepat sembuh ya. [Ae]
24-11-2005 10:37:33
Related posts:
- Anak Ngompol
- Tabungan Anak
- Anak Sering Keringatan
- Mengajak Anak Ke Dokter
- Sekolah Buat Anak Umur 2 Tahun