Informasi Autisme Indonesia Situs Informasi Autisme dan Kesehatan

1Feb/12Off

Membangun Rumah

Rencananya tahun depan kami mau membangun rumah, kira-kira apa saja yang harus dipersiapkan?

Tanya:

Dear ibu-ibu yang baik, InsyaAllah tahun depan kami punya rencana membangun rumah. Rencananya kami ingin memakai tukang sendiri (bukan dari developer) karena jauh lebih murah.
Yang aku mau tanyakan:
- Kira-kira apa saja yang harus dipikirkan/dipersiapkan?
- Perlu tidak kita memakai jasa arsitek untuk merencanakan dan menggambar denah ruangan-ruangannya?
- Lebih enak/menguntungkan kalau kita memakai sistem borongan atau tidak?

Tolong sharingnya ya Bu yang punya pengalaman membangun rumah sendiri dari awal. Pokoknya apa saja yang berhubungan dengan pembangunan rumah [nop]

Jawab:

Sebelum membangun rumah, yang pasti harus sudah siap dengan gambaran rumah yang akan dibangun. Sebaiknya bukan sekedar sketsa kasar karena untuk mencegah mispersepsi antara mandor/tukang dengan mbak sebagai empunya proyek, jadi minimal disiapkan gambar denah, tampak rumah dari depan, samping, belakang, dan potongan rumah. Disamping itu pastinya mbak akan perlu gambar tersebut untuk mengurus IMB (Ijin Mendirikan Bangunan). Pentingnya ngurus IMB ini yah karena nanti juga akan ketahuhan apakah di tanah tersebut ada rencana pengembangan/pelebaran jalan misalnya, juga berapa jarak bangunan yang diperbolehkan dari jalan (garis sempadan bangunan). Pengalaman teman iparku, dia tidak mengurus IMB ini, dan langsung membangun, ditengah jalan, datang orang Kimpraswil mencoret-coret bangunan disepanjang jalan tersebut yang kena pelebaran jalan, jadi akhirnya dari tanah yang panjangnya 10m akhirnya hanya akan tersisa 3 m jika pelebaran jalan dilakukan, sementara pembangunan sudah setengah jalan! Rugi dua kali jadinya. Pengalaman kedua pengalamanku sendiri, karena sudah pernah membangun sendiri 2x dan aku selalu ngurus IMB, untuk rumah yang barusan aku bangun ini ternyata akan ada pelebaran jalan juga, jadi tanahku akan kepotong 2m, untung mengurus IMB dulu, jadi aku bisa merubah rencana denah sesuai dengan peraturan yang ada. Pentingnya IMB yang lain, kalau untuk agunan di bank, biasanya akan dibutuhkan IMB ini karena bank tidak mau memberi kredit ke rumah yang tidak jelas statusnya di kemudian hari.Kalau sudah punya IMB berarti rumahnya aman. Kalau di Jakarta kalau tidak salah bangunan harus pakai arsitek yang bersertifikat baru IMB bisa keluar, tapi tidak tahu berlaku benar apa tidak, sebaiknya ditanyakan ke TataKota atau Dinas Perijinan di sana? Kalaupun mau tidak pakai arsitek paling bisa “diakalin” dengan menggambar sendiri lalu kalau memang harus pakai arsitek bersertifikat ya dibawa saja ke arsitek buat di”gambar ulang” atau cukup diketahui oleh dia, paling tidak biayanya lebih murah daripada konsultasi dari awal.

Bagusnya kalau konsultasi ke arsitek (bukan promosi atau membela diri karena kebetulan aku juga tukang menggambar rumah, mereka bisa kasih masukan/solusi untuk membuat rumah yang sehat dan sesuai kebutuhan, terutama untuk penghawaan dan pencahayaan alami, atau apapun input yang mbak mau. Sistem job membangun yang menguntungkan dan memberi kepastian ke mbak tentunya sistem borongan, karena pekerjaan akan selesai tepat waktu dan tidak ada biaya tambahan meskipun harga bahan bangunan naik di tengah jalan. Kalau tidak borongan, bisa jadi pekerjaan akan molor karena tukang dibayar harian. Semakin lama semakin besar pemasukan buat mereka. Proyek yang mestinya 4 bulan kelar bisa molor sampai 6 bulan bahkan lebih. Tapi system borongan pun harus siap-siap dengan biaya tambahan kalau tukang/mandor yang kita pekerjakan tidak terlalu pandai “berhitung anggaran biaya”, sekaligus tidak kuat modal(karena bukan kontraktor), bisa terjadi di tengah jalan harga naik, atau mereka salah hitung sehingga rumah yang mestinya diborongkan 100juta sampai selesai ternyata baru 80% jalan sudah menghabiskan seluruh biaya. Hal terburuk adalah mandor mangkir atau pembangunan bisa diteruskan tapi mbak menambah biaya diluar biaya yang sudah disepakati. Sorry kalau kepanjangan, semoga membantu. Kalau mau tanya-tanya yang lain lagi boleh japri atau visit saja webku di www.daydzign.com [DH]

Menurut aku beberapa hal yang harus dipertimbangkan kalau mau membangun rumah antara lain :

- Budget, itu yg penting banget. Setahu aku kalau rumah sederhana bisa min antara Rp. 1,5 – Rp 1.750 jt/m persegi. kalau mau yang tidak mewah boleh lah min 2 jt ke atas. jadi tergantung kita mau pakai bahan apa. misal : jenis bahan yang akan di pergunakan untuk lantai (keramik/marmer/ubin biasa),jenis kayu, genteng dan lain sebagainya. Biasanya kalau membangun rumah itu biaya untuk struktur bangunan perhitungannya standard-standard saja, tapi yang membuat budget bengkak itu malah bagian akhirnya. seperti beli jenis-jenis handle pintulah, wastafel yang unik-uniklah, atau keramik yang jenisnya lucu-lucu untuk kamar mandi, lampu-lampu, apalagi kalau kita sendiri yang turun belanja ke toko, duhh tidak tahan mata, tidak seimbang dengan dompet.

- Kalau kita awam soal urusan bangun membangun rumah, lebih baik pakai jasa arsitek untuk membuat gambar denahnya. Alhasil setelah gambarnya selesai, kita bisa tahu berapa besar luas bangunan rumah kita, terus kita kalikan dengan ancar-ancar per meter tadi dapat kira-kira budgetnya berapa. Selain itu kita juga jadi bisa tahu kira-kira rumah kita akan jadi seperti apa, untuk menghindari ganti-ganti model selama masa pembangunan. Kemarin waktu aku bangun rumah, aku pakai jasa arsiteknya saudaraku untuk gambar denah ruangannya kebetulan dia juga design interior, jadi bisa skalian minta gambar untuk kitchen set dan model kusen pintu/jendela. jadi maunya aku kayak gmana, terus mau kamar berapa, garasi letaknya dimana dan lain sebagainya kita ceritakan ke dia, terus dia yang gambar. setahu aku ada saja kantor arsitek yang mau melayani untuk membuat gambar saja. saranku mbak, kalau pakai jasa arsitek lebih baik cari yang arsiteknya masih orang muda, jadi banyak ide-ide baru yang keluar dan juga biasanya lebih ‘berani’ sedikit dalam menggambar bentuk rumah.

- Menurut aku lebih baik pakai sistem borongan, soalnya kita tidak akan pusing ini itu lagi. cuma kalo mbak punya kenalan kontraktor yang independen, yang biasa mengerjakan bangunan rumah lebih enak lagi. sebab kalau cuma pakai mandor/tukang biasa kalau tukangnya tidak bagus, kita si pemilik rumah malah jadi repot akhirnya dan kemungkinan bisa kelebihan budget juga. kemarin aku pakai jasa kontraktor independen,gambar rumah yang digambar sama saudaraku itu aku kasih ke dia, terus dia yang kerjakan.

tips kalau pakai jasa kontraktor/pemborong :
- minta dia buat rincian biaya pembangunannya.
- minta pembayaran dilakukan bertahap sesuai dengan prosentase berlangsungnya tahapan pembangunan berjalan, namun kesepakatan total biaya sudah disepakati sebelum pekerjaan pembangunan dimulai.
- semuanya itu dibuat dalam bentuk perjanjian kerjasama (yg simple saja), termasuk juga jangka waktu pembangunan.
- sekalian tanya kemungkinan apakah dia bisa membuat kitchen setnya. jadi sekalian hitung beli kayu-kayu untuk kusennya, kali saja jadi lebih murah.

Kontraktor aku yang kemarin itu, kelihatannya tidak terlalu banyak ambil komisi/jasa pembangunan untuk dia, terus orgnya juga cukup flexible. Dia memperbolehkan aku dan suamiku untuk ikut memilih mulai dari jenis keramik s/d jenis cat, asalkan harganya masih masuk dalam pos rincian biaya yang dia buat, sehingga ketika rumahnya jadi aku benar-benar puas karena dibuat berdasarkan taste dari aku dan suami.

Kalau mau belanja pernik-pernik interior bangunan (handle pintu, keramik, wastafel dan lain sebagainya) banyak tersedia di daerah percetakan negara. Disitu ada supermarket bahan bangunan macam-macam jenisnya, nyaman mbak belanja disitu pakai AC. terus kalau mau beli handle-handle pintu yang harganya murah tapi modelnya bagus di daerah jl fatmawati, namanya Kunci Mas. Kalau mau beli lampu-lampu gantung di seberangnya toko kunci mas ini. [Dr]

Mbak, Kebetulan aku baru selesai bangun rumah, dan ingin menambahkan saja tipsnya mbak DH sama mbak Dr. Menurut aku yang paling penting, kontrol, kontrol, dan kontrol. Soalnya pengalamanku kemarin agak tidak enak. Aku sudah pakai arsitek, sistem cost dan fee, feenya 15% (lumayan tinggi jugalah buat arsitek muda), dengan alasan karena kita awam sekali soal bangunan dan berharap dia bisa kasih petunjuk dan input-input buat kita, dan karena aku dan suami kerja, jadi ya perlu dia buat kontrol hariannya. Yang ada, sepertinya pakai dia tidak banyak nilai tambahnya, tapi malah banyak masalah/kesalahan yang merugikan kita, sampai akhirnya arsitek itu kita hentikan di tengah jalan dan feenya kita potong. Tapi ini cuma kasuistik, tidak semua arsitek begitu, itu arsitek saja yang kacau, bapakku (yang arsitek juga) saja sampai bilang, ‘wah, ni orang benar2 mempermalukan korps arsitektur nih..’ Masalah-masalah yang aku alami diantaranya (bukan menakuti-nakuti, cuma buat masukan saja bahwa hal-hal ini perlu dikontrol supaya tidak kejadian sama mbak :
- keramik kamar mandi anak dipasang di kamar mandi pembantu (jadinya kamar mandi pembantuku indah)
- banyak lubang jendela dan lubang angin tidak bolong, tapi dipasang tembok. Sudah dicomplain, minggu depannya balik, bukannya sudah dibolongi, malah sudah diaci (jadi boros material dan upah tukang)
- letak saluran-saluran air tidak sesuai denah, sampai-sampai closet-closet letaknya pada jauh (ada yang sampe 20 cm) dari dinding.
- gara-gara banyak lubang yang lupa dibolongi, ada pipa-pipa saluran air yang jalurnya melewati letak lubang jendela (akhirnya pipa di bongkar dan di relokasi, yang berarti buang material dan upah lagi), dan pada saat dibolongi, ternyata ada besi konstruksi yang letaknya di tempat lubang jendela, akhirnya besi dipotong.
- yang paling parah, dalam satu bulan, stop kontak lantai 1 pada mati satu per satu, sampai-sampai dari sekian puluh stop kontak yang ada, tinggal 2 yang hidup. dan menurut tukang listriknya dia, MUNGKIN ada kabel bawah tanah yang ke pacul waktu pembangunan, yang jelas dia tidak bisa membetulkan dan tidak bisa di trace karna semua kabel terletak dibawah lantai (tidak mungkin aku bongkar lantai, apalagi belum tentu problemnya disitu), dan solusinya ya semua stop kontak harus dibuatkan instalasi baru. Aku sempat panggil tukang listrik lain, katanya antara gambar denah instalasi yang ada dengan kenyataannya juga pada tidak sama [Rn]

Aku tidak begitu mengerti tapi katanya orang beberapa hal yang harus diperhitungkan adalah :

1. Perhitungan biaya kalau sudah tahu kira-kira berapa tambahin sekitar 30%lah buat jaga-jaga. Entah itu kenaikan harga, punya ide tambahan, molornya tukang (kalau harian). Pokoknya perkiraan yang tidak dapat diperkirakan. Apalagi tahun depan pasti akan ada kenaikan harga, sekarang saja harga besi sudah mahal.

2. Kalau punya kenalan arsitek tidak apa-apa yang gratisan, tapi kalau tidak begitu jelimet atau spesifik mending kita saja yang rancang-rancang (kalau sudah punya bayangan). Tukang biasanya cepat tanggap sama yang kita mau dan bisa kasih saran berdasarkan pengalaman.

3. Borongan atau harian ada untung ruginya. Kalau borongan memang kita tidak usah pusing cari material, semua sudah termasuk didalamnya, tapi biasanya mereka kan kejar tayang takutnya kualitas kerja tidak terjamin, kita harus teliti. Kalau harian kita bisa menekan ongkos di material, tapi karena hitungannya harian bisa saja tukang itu molor, kalau kita bisa langsung mengawasi bisa kita cereweti [Lsy]

Kalau urusan membangun rumah, mertuaku paling jago. Soalnya itu pekerjaan beliau dari muda, mandorin tukang. Yang perlu diperhatikan :

1. IMBnya harus diurus dulu, adapun prosesnya cukup rumit dan menghabiskan banyak waktu kalau untuk luas tanah dibawah 200m, cukup diurus di kecamatan, kalau diatasnya harus ke walikota sebelum IMB, mbak harus mengurus advis planning dulu di kecamatan. (kira-kira Rp 700.000,-), yaitu peruntukan tanah tersebut beserta GSB nya Kalau sudah dapat, buat denah rumah di kalkir 8 lembar dengan tanda tangan ijin arsitek (ini bisa minta tolong orang kecamatan saja, biayanya Rp 300.000,-) Nah, advis planning, denah, kopian sertifikat tanah dilegalisir, KTP dan KK sebagai syarat pengajuan IMB (biayanya kira-kira Rp. 1.500.000,-). Setelah semua syarat masuk, satu minggu kemudian akan dapat IP (ijin pendahuluan) dan plangnya. Baru kita bisa mulai membangun. IMBnya sendiri baru akan keluar 1 bulan kemudian

2. Kalau untuk rumah tidak begitu besar dan rumit, sebenarnya bisa dikira-kira saja denahnya, tukang pasti mengerti ada program komputer untuk membuat denah rumah berikut tampilannya untuk para awam, atau pakai saja Visio kalau arsitek prof, kira-kira feenya 5% dari RAB kecuali kalau punya kenalan arsitek yang mau dibayar dengan *harga teman*, kenapa tidak?

3. Pengerjaan, lebih baik ambil borongan tukang saja, tanpa bahan kalau ambil yang harian, agak repot karena kita harus benar-benar tahu yang akan dikerjakan itu apa aja dan semua kita yang mengatur, apalagi kalau awam lagipula pekerjaan bisa molor dari waktu yang ditentukan karena tukang tersebut tidak mengejar target. semua bahan kita beli sendiri di material atau toko bangunan, supaya puas dan bisa dapat yang benar-benar murah kadang-kadang kalau borongan dengan bahan, pemborongnya suka nakal, sehingga kita dikasih bahan-bahan yang kurang baik mutunya. ada baiknya, kita survei ke beberapa toko sebelum memutuskan, supaya dapat yang paling murah kalau mbak mau, aku bisa kasih rekomendasi toko tempat membeli kayu (klender), besi beton, gipsum (condet), keramik & genteng (panglima polim) yang paling murah menurut surveiku. aku juga bisa rekomendasi pemborong langgananku yang tidak diragukan lagi pekerjaannya. Pemberian uang ke pemborong dilakukan bertahap, misalnya per minggu berdasarkan jumlah tukang yang hadir jadi kita bisa mengontrol budget yang keluar tidak akan melebihi harga borongan yang ditetapkan. biasanya harga borongan tukang 1/4 dari RAB misal, akan membangun rumah 100m2, maka kalau perkiraan RABnya Rp 1.500.000,-/m2 = Rp 150.000.000,- maka borongan tukang sekitar = Rp 35.000.000,- – Rp 40.000.000,- (tergantung negonya)

4. Tahapan2 dalam pembangunan:
- pesan kusen dahulu, biasanya tukang kusen membutuhkan waktu 1 bulan untuk menyelesaikan semua pesanan jadi pemasangan kusen bisa sejalan dengan pembangunan rumah, tidak molor
- bikin sumur pompa, beli genset, bikin bedeng dan septik tank dahulu hal ini sangat diibutuhkan mengingat dalam pembangunan pasti dibutuhkan air, listrik dan tempat tinggal untuk tukang
- Untuk rumah bertingkat, kira-kira dalam 1,5 bulan sampai 2 bulan akan naik genteng
- Sesudah itu baru finishingnya kira-kira 3-4 bulan
- Daftar pemasangan listrik baru ke PLN wilayah terdekat
- Rumah siap ditempati [Bdnh]

Mau berbagi pengalaman juga ya, karena perasaan baru kemarin aku bernafas lega setelah membangun rumah. Mandor yang aku pakai bagus sekali orangnya, pintar, rapi & cepat mengerti apa yang aku & suami mau, waktu aku sodori gambar rumah kami, dia langsung mengerti, dan hampir dibilang secara keseluruhan tidak ada kesalahan. Tugas arsitek (teman suamiku) cuma gambar saja selama pembangunan rumah berlangsung si arsitek tidak ikut-ikutan kecuali kalau suamiku mau nanya-nanya itupun sedikit saja (via telpon). Saat pengerjaan rumah berlangsung memakan waktu kira-kira 7-8 bln, hampir tiap akhir minggu urusan kita pasti tidak jauh dari urusan bahan bangunan mencari kayu, keramik lantai/kamar mandi, cat, genteng, design pagar, kebetulan aku & suami sendiri yang merancang, benar-benar seru, bisa dibilang itu rumah hasil dari segala ide,tenaga kita tercurah dirumah itu semua detail ruang atas ide & hasil diskus aku & suami (arsitek) puas sekali, capek juga setelah rumah jadi, kita harus cari tukang tralis yang bagus karena kita tidak mau model teralis besi tempa yang sekarang lagi musim, tapi model teralis bentuk ketupat dengan besi solid (model jaman baheula) akhirnya ketemu tukang las tralis yang kita cari, tapi lamanya minta ampun hampir 3 bulan baru selesai, padahal aku sudah ingin sekali pindah rumah. Sudah hampir 5 bulan aku tempati rumah itu Alhamdulillah tidak ada komplain sama bangunannya, malahan tembok rumahku itu terlalu keras, soalnya kita membangun pakai material kelas 1 maksudnya supaya kuat Insya Allah 20 tahun ke depan rumah masih kokoh, jadi kita tidak butuh pemeliharaan yang menghabiskan uang. Pernah ada bapak-bapak yang naksir dengan bentuk rumah kita terus minta ijin mau ngikutin/nyontek, jelas saja aku yang paling sewot, suamiku sih senyum-senyum saja, kalau perlu aku tulis di depan rumah “dilarang mencontek bentuk rumah ini tanpa ijin tertulis pemilik rumah” hehe. Pesan aku saat membangun rumah pasti akan banyak cobaan antara suami istri & banyak yang jadi cekcok, misalnya si suami pengen keramik ini, istri pingin yang lain, sering hal kaya itu muncul yang penting saling sabar & pengertian [Dna]

Setelah bersuamikan seorang arsitek bahwa pandanganku selama ini tentang arsitek salah besar. Dulunya aku berpikir buat apa mesti bayar arsitek yang penting kita tahu kebutuhan kita. Tapi sekarang aku mengerti bahwa justru dengan adanya arsitek amat sangat membantu kita dalam penyusunan/tata ruang sesuai kebutuhan kita. Banyak teman-teman yang dulunya ‘takut’ pakai jasa arsitek karena faktor budget, tapi setelah mencoba mereka puas, bahkan ada yang bilang ‘koq bisa ya ruangannya jadi lega, oh iya benar juga dan sebagainya. Kalau mau pakai jasa arsitek, kita informasikan saja budget kita dulu sehingga mereka bisa menyesuaikan dengan dana dan kebutuhan kita. Dari situ biasanya jarang melenceng dari rencana awal. Beda kalau kita sendiri dan pakai tukang apalagi kalau pembangunan dari nol (bukan renovasi). Arsitek juga bisa membuat design rumah tumbuh, artinya kalau sekarang belum ada budgetnya tidak papa tapi sudah didesign dulu sehingga kalau ada dana nantinya bisa ditambah dengan baik jadi tidak berkesan tambal sulam. Sebaiknya memang menggunakan jasa arsitek, daripada nanti sudah jadi ada yang kurang lebih malah biayanya lebih besar ketimbang memakai arsitek dari awalnya. Kalau untuk membangun dengan pengawasan minim sebaiknya menggunakan sistem borongan, tapi inipun ada resikonya soalnya mereka mengejar target sementara tahapannya belum sempurna (contoh : Pengecoran dan semen lapis). Kalau pakai sistem harian bisa saja tukangnya males-malesan jadi pekerjaan dilama-lamakan. Memang bingung, tapi begitulah kenyataannya. Usahakan ada yang mengawasin rutin jadi hal-hal diatas tidak terjadi. Suamiku tahun lalu baru selesai membangun rumah adiknya, dan mereka puas karena semua keinginan mereka terakomodir dengan baik. Mudah-mudahan hal ini bisa jadi masukan ya.

Biarpun arsitek tidak ikut-ikut, tapi dasar pembangunan adalah gambar. Kalau gambar sudah ada, mandor biasanya langsung bisa baca gambar (kalau tidak bisa perlu dipertanyakan ke mandorannya). Saranku, sebaiknya kalau untuk mendesign rumah gunakan jasa arsitek sehingga semua keinginan kita bisa diakomodir dalam gambar dengan baik. Kalau sudah begini pakai mandor sama tukang saja untuk sebuah rumah yang tidak memerlukan konstruksi aneh-aneh pasti bisa. Tapi tetap harus dikontrol juga soalnya kata suami banyak mandor yang bilang mengerti gambar tapi tetap saja ada kesalahan walaupun gambarnya sudah jelas. [DN]

Maaf ya aku bukannya mau bantu, tapi aku juga mau tukar pikiran karena sama tahun depan juga mau bangun rumah insya Allah juga mau pakai tukang sendiri membangunnya juga bukan di perumahan soalnya. Sejauh ini persiapanku masih acak-acak saja;

- denah perkiraan aku dapat dari tabloid rumah edisi dua minggu yang lalu sepertinya soal tanah nya kecil dan aku mau buat tingkat tadinya juga ingin jasa arsitek, di iklannya tabloid rumah atau majalah idea banyak juga, tapi keburu ketemu denah, walaupun sebenarnya aku tetap ingin dengar sarannya arsitek karena posisi rumah yang kiri kanan nya sudah bangunan jadi mana tahu ada saran tentang bagaimana supaya rumah nya sehat atau bahan-bahan apa saja yang sebaiknya dipakai, sepertinya tukang-tukang itu tidak terlalu baru ya, harus kita yang rajin cari pernik-pernik
- sistem borongan katanya lebih cepat, tapi aku takutnya jadi buru-buru misalnya semennya belum kering benar sudah dilanjutkan proses berikutnya, walhasil nanti bangunannya cepat retak. Kalau tidak borongan apa istilahnya ya (aku juga baru mempelajari bulan terakhir ini) ada resikonya juga ada untungnya. Kalau tukang yang rumahnya dekat misalnya di pamanukan situ, kadang mereka suka pulang saja beberapa minggu tiba-tiba terus nanti balik lagi sesuka mereka. ya untung-untungan lah
- aku juga baru mau mulai langganan majalah idea. Kalau tabloid rumah tidak bisa langganan,
- sekedar perkiraan, temanku bangun rumahnya 60 m2 biaya total ~ Rp 80.000.000 pakai sistem borongan, dan selesai dalam waktu 3 bulan di daerah bekasi sana. tapi ini tidak tahu aku belum mendalami masalah hitung-mengitungnya, ada buku seri tabloid rumah yang judulnya membangun rumah, covernya merah harganya Rp 15.000,- disitu ada cara hitung biaya cuma aku juga belum sempat buat perhitungannya. [Iyt]

Pengalaman aku, kurang lebih 6 bulan sebelum kita rubuhi rumah lama untuk bangun baru, kita corat coret sendiri layout apa yang kita mau, lalu cari tukang dan kebetulan si tukang bisa buat blue print, jadi jelas skalanya. Kita lebih suka bayar harian, karena kalau borongan sering sekali di bohongi kwalitas bahan bangunannya. Setelah itu baru kita mencari keperluan sebagai berikut :
- pesan kusen, lalu di titip di tempat si pembuat kusen dulu.
- cat rumah. Beli di jatinegara yang gallon-galon, ternyata jauh lebih murah daripada beli di toko bangunan, bisa beda Rp 25.000,- per galon.
- keramik rumah, engsel, handel pintu, pernak pernik untuk finishing, di pasar kenari.
- kusen dan triplek untuk eternit rumah. Beli di daerah duren sawit, puas karena murah meriah dan tripleknya tebal-tebal.
- batu kali dan pasir. Beli di deket tol bekasi barat. Ternyata pasirnya beda-beda untuk awal pendirian dan finishing
- batu bata dan genteng. Cari sampai hampir purwakarta, dapat yang bagus dan murah meriah.
- cakar ayam/besi beton. Beli di jual beli besi bekas madura-madura itu, pilihan yang bagus-bagus ternyata banyak dan harganya jauh lebih murah dibanding di toko bangunan, kwalitas juga sama.
- waktu rumah sudah hampir 75% jadi, pesan krey jendela dan horden.
- untuk halaman depan dan belakang, pesan rumput gajah dan jepang dan tanaman-tanaman hias lainnya. [DNov]

20-11-2005 00:32:40

Related posts:

  1. Kulkas
  2. Stamp Atau Cap
  3. Tips Membeli Rumah Lama
  4. Pemberkatan Rumah Baru
  5. Pinjam Meminjam Dengan Tetangga

Protected by Copyscape plagiarism checker - duplicate content and unique article detection software.



Powered By WizardRSS.com | Full Text RSS Feed | Amazon Affiliate Script | Android Games | Hud Software
31Jan/12Off

Apa Saja Yang Jadi Gangguan Persalinan?

InfoSehat - Setiap Mama pasti menginginkan proses melahirkan yang lancar, namun ada baiknya kita mengenali gangguan yang mungkin terjadi pada saat melahirkan.
Pada umumnya, gangguan pada proses persalinan disebabkan oleh banyak faktor mekanik pada proses persalinan itu sendiri. Hal ini dipengaruhi oleh:

Jalan Lahir

Panggul yang sempit, adanya tumor di indung telur atau di rahim dapat menyebabkan penyumbatan jalan lahir.

Keadaan Janin

Jika bayi terlalu besar, atau berada pada posisi sungsang, wajah yang menghadap ke atas, pantat keluar lebih dulu, atau kaki yang keluar lebih dulu.

Kekuatan Kontraksi Rahim

Jika kontraksi rahim lemah dan tidak terkoordinasi, atau leher rahim yang tidak elastis, sehingga tidak dapat melebar pada proses persalinan, hal ini menyebabkan kepala bayi tidak terdorong dan tidak dapat melewati jalan lahir dengan lancar.

Sumber: Buku Kehamilan dan Persalinan/lactamilmama.com